Selimut - Creepypasta

Malam ini seperti malam-malam yang lain. Kau berbaring, dalam gelap dan hening, sendiri, tidak ada yang menemani selain pikiranmu yang mengembara. Kau berguling di atas ranjang, hanya dirimu dan pikiranmu. Kau merenung, kau mengalihkan perhatian, dan kau berfantasi. Apapun yang dapat mengalihkan perhatianmu dari suara keheningan yang berdenging, keheningan yang menyelimutimu. Kau mendengar suara berderak, suara wajar yang kerap muncul pada malam, namun tetap saja membuatmu ciut saat suara tersebut hinggap ditelinga.

Kau mendengar suara tersebut nyaris setiap malam, namun tetap saja, paranoia selalu memenuhi kepalamu. Pikiran-pikiran positif yang sebelumnya menerangi isi dalam kepala, kini berganti hanya oleh kegelapan. Apa yang sebelumnya kau rasakan sebagai kesenangan kini berubah menjadi pemikiran-pemikiran mengenai sosok iblis ataupun pembunuh yang berkeliaran.

Keheningan –terlalu hening- yang sebelumnya membuat perhatianmu teralihkan namun cukup mengganggu kini menjadi satu-satunya fokus bagimu. Kau berbaring, diam, mencari dengar akan suara asing, berharap bahwa keheningan tetap muncul tak terkoyak. Suara sekecil apa pun selalu memicu paranoia dan keheningan tetap hadir saat kau menunggu sesuatu yang tak diharapkan terjadi.

Kau terlalu takut untuk membuka mata, takut bahwa apa yang kau khawatirkan akan benar-benar muncul kemudian. Maka, kau tetap meringkuk. Meringkuk dalam kengerian. Rasa takut tumbuh semakin besar saat kau berusaha lepas dari apapun yang diciptakannya. Kau kemudian mendapatkan ide dari masa kecilmu: bersembunyi di balik selimut. Kau menarik selimut menutupi kepala dan berusaha tetap diam.

Kau dengar suara kemudian, namun suara tersebut tidak terlalu menakutkan rasanya. Kau berpikir bahwa jika mereka tidak bisa melihatmu, maka kau aman. Dari balik selimut, kau mulai merasa panas dan gerah, namun kau tetap mempertahankannya, bagaimanapun juga, kau ingin tetap merasa aman.

Kau mulai merasa sedikit lebih tenang dan pikiran waras mengenyahkan paranoia yang menghantui
sebelumnya. Perlahan. Sekali lagi, hanya kau dan pikiranmu, sendiri, di balik selimut. Kau berpikir betapa bodohnya merasa ketakutan dan panik hanya karena sedikit suara.

Dengan mata masih tertutup, kau menyingkap selimut dari kepala, panas dan gerah kemudian mulai mereda. Kau bernafas lega dan berguling mencari posisi nyaman, namun kemudian kau mendengar suara yang dalam dan serak,

“Oh disitu kau rupanya,”

Diikuti suara langkah kaki terseret perlahan menuju kamarmu.


Sumber : Kaskus

Related Posts

Subscribe Our Newsletter